Karya Mendapat Kritik di Jakarta, Laku Keras di Eropa

RASA lelah masih tampak di wajah Nadiah Atha Syakirah Ibrahim dan Wang Sinley Viriya saat ditemui wartawan Jawa Pos Radar Malang, Sabtu (10/9). Maklum, sejak bertolak dari Kota Malang menuju Paris pada 28 Agustus lalu, mereka baru kembali Jumat pagi (9/9). Meski demikian, rasa lelah itu sudah terbayar dengan perasaan bangga bisa memamerkan karya di pusat mode dunia. 

Setelah tampil pada acara Trunk Show & Photo Shoot 3 September dan Fashion Show & Pop up Store 4 September, keduanya jatuh sakit karena capek. Nadiah dan Wang mengaku belum terbiasa lantaran event bertaraf internasional itu merupakan pengalaman pertama mereka mengikuti pameran di luar negeri. ”Ini sekaligus event internasional pertama yang diikuti siswa SMK Negeri di Indonesia,” ujar Nadiah. 

Sebenarnya, Nadiah sudah dua kali mengikuti even serupa, namun berskala lokal. Tentu perbedaannya sangat drastis dengan event internasional. Mulai dari persiapan hingga saat tampil. Dalam event lokal, siswi kelas XI Tata Busana itu biasanya memegang satu peragawati untuk peragaan busana. Namun saat fashion show di Paris, Nadiah dan Wang langsung memegang lima peragawati untuk peragaan masing-masing busana. ”Total bertiga sih. Dibantu guru pembimbing satu orang. Namun yang berperan dominan tentu tetap kami berdua,” ungkapnya. 

Dalam dua hari event di Paris itu, Nadiah dan Wang menampilkan lima busana. Pada hari pertama (3/9), dia mengikuti trunk show atau fashion show uji coba. Kegiatan itu dilakukan di atas kapal yang sedang berlayar. 

Setelah trunk show usai, dilanjutkan dengan photo shoot untuk kepentingan pemasaran. Fotofoto itu digunakan untuk pembuatan katalog. ”Jadi busana kami dikenakan seorang peragawati dan diambil beberapa foto. Mulai penampakan secara penuh hingga penampakan detail-detailnya,” tutur Nadiah. 

Keduanya sama sekali tidak mengalami kendala dalam sesi trunk show dan photo shoot. Tidak terburu-buru dan punya keleluasaan waktu. Namun ada satu kejadian yang sempat membuat mereka panik. Yakni ukuran sepatu yang kekecilan untuk salah satu peragawati. Beruntung saat itu Nadiah dan tim membawa sepatu cadangan. Meski sepatu itu sebenarnya untuk laki-laki. 

Di sisi lain, dia sangat bersemangat saat menceritakan bahwa karyanya bersama Wang banyak dilirik konsumen setelah trunk show di Paris. Bahkan peragawatinya sudah mengincar beberapa rancangannya. Itu menjadi pendorong bagi Nadiah dan Wang menuntaskan kegiatannya di Paris dengan sebaik-baiknya. 

BUNTI SMK BISA: Nadiah Atha Syakirah Ibrahim (kanan) dan Wang Sinley Viriya berpose dengan latar belakang menara Eiffel, Paris, Prancis. Foto kanan, salah satu busana karya Nadiah dan Wang yang dipamerkan pada fashion show Front Row Paris, 4 September 2022. DOKUMEN SMKN 3 MALANG

Perjuangan Nadiah dan Wang bisa menembus event di Paris tentu tidak instan. Keduanya lebih dulu melalui seleksi internal di SMKN 3 Malang. Peserta seleksi itu khusus para siswa yang punya pengalaman mengikuti event. Awalnya Nadiah dan Wang tidak menjadi satu tim seperti saat di Paris. Mereka bersaing secara individu membuat busana dengan tema Kota Malang. 

Nadiah lantas mencoba mengangkat tema keindahan terasering sawah di Desa Ngadas. Dia memilih warna hijau sebagai simbol terasering. Akhirnya konsep Nadiah yang resmi dibawa road to Front Row Paris. Meski begitu, konsepnya masih mengalami beberapa perbaikan dari mentor yang ada di Malang. “Kami harus buat lima desain untuk lima busana. Dan satu desainnya itu mengalami revisi berkali-kali. Sampai nggak terhitung berapa desain yang sudah saya buat,” ungkapnya. 

Setelah lima desainnya itu disetujui mentor, Nadiah menganggap proses selanjutnya cenderung mudah. Sebab dia tinggal mengaplikasikan dari desain yang ada ke dalam sebuah pola-pola busana. ”Kalau mikir konsep dan desain itu kan memeras otak ya. Kalau produksi tinggal jalan sesuai desain saja,” imbuhnya. Total waktu yang disediakan sejak seleksi internal hingga berangkat ke Paris sekitar 1,5 bulan saja. 

Tepat pada 4 September 2022, Nadiah dan Wang mengikuti fashion show untuk peragaan lima busananya. Momen itulah yang paling menguras tenaga mereka berdua. Keduanya harus memakaikan busana rancangan mereka itu ke tiap-tiap peragawati. ”Total desainer yang ada di sana 17 orang. Ada desainer yang membawa 10 busana. Padahal peragawatinya hanya 20 orang. Jadi harus bergantian,” ungkapnya. 

Nadiah dan Wang mampu menuntaskan tantangan itu meski hanya punya waktu 3 sampai 5 menit untuk memakaikan busana secara lengkap ke peragawati. Setelah fashion show, acara dilanjutkan dengan pop up atau memajang busana untuk bisa dilihat secara langsung oleh konsumen. 

Dari 17 desainer yang mengikuti Front Row Paris, mereka adalah desainer termuda. Namun keduanya mampu menjadi salah satu desainer dengan penjualan item terbanyak. ”Ada tiga pieces outer, satu rompi, dan 3 aksesori yang terjual saat itu juga,” bebernya. 

Keduanya sama sekali tak menduga karyanya bisa langsung laku, bahkan mengungguli desainer dari luar negeri. Apalagi busana yang dipamerkan itu pernah ditampilkan di Jakarta dan menuai kritik. Katanya, bahan terlalu tebal dan dinilai tidak cocok dengan pangsa pasar Indonesia yang beriklim tropis. 

Padahal saat itu Nadiah dan Wang telah berpikir mendesain busana untuk pangsa pasar Eropa. Karena itulah bahan yang mereka gunakan memang cenderung tebal. Apalagi sebentar lagi negara-negara Eropa akan memasuki musim dingin. ”Banyak yang berpendapat bahwa desain busana kami itu kekinian untuk usia 17 sampai 35 tahun. Itu karena kami mengacu pada forecasting 2023-2024,” ungkapnya. 

Nadiah menceritakan, satu setel busana miliknya itu dibanderol dengan harga 350 euro sampai 500 euro. Atau setara dengan Rp 6 juta sampai Rp 7,5 juta. Itu untuk satu setel yang terdiri dari outer, inner, dan celana. Namun konsumen tak harus membeli satu setel sekaligus. Mereka boleh membeli secara terpisah. 

”Waktu berangkat ke Paris, kami membawa lima koper besar khusus untuk lima busana yang akan dipamerkan. Kalau ditotal dengan koper untuk keperluan lainnya, jumlahnya sembilan koper. Sebab kami berangkat dengan Ibu Kepala Sekolah dan guru pembimbing,” ujarnya. Hal itu dibenarkan Lilik Sulistyowati, sang kepala sekolah. Dia mengatakan, sebelum berangkat menuju Paris, rombongan dari SMKN 3 Malang yang berjumlah empat orang transit di Jakarta selama satu hari. Sebab rombongannya akan bertambah tiga orang dari BBPPMPV Bispar. ”BBPPMPV Bispar itulah yang memberikan dukungan penuh kepada kami,” ungkapnya. 

Sementara itu, guru pembimbing tata busana Ana Isro Iliani mengatakan bahwa kesempatan ke Paris datang tidak lepas dari konsistensi SMKN 3 Malang dalam mengikuti event yang diadakan IFC (Indonesia Fashion Chamber). Baik lokal maupun pusat. ”Jadi kami juga mengikuti seleksi yang digelar IFC pusat dari Jakarta,” tutupnya. (*/fat)

Sumber: https://radarmalang.jawapos.com/pendidikan/12/09/2022/karya-mendapat-kritik-di-jakarta-laku-keras-di-eropa/

Beri penilaian untuk berita ini!

Bagikan informasi ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.